Fri. Feb 28th, 2020

Majalah Wisata

News | Travel | Experience

BERBAGI HARAPAN UNTUK MASA DEPAN

5 min read

Hari Natal memiliki bagian penting untuk menciptakan berbagai harapan di masa depan. Tentang bagaimana umat kristiani memahami kehadiran Sang Juru Selamat ke dunia. Perayaan Natal ini merupakan langkah besar seseorang untuk memulai langkah yang akan datang dari hati yang tulus untuk bisa hidup lebih baik bersama dengan orang-orang di sekelilingnya. Perayaan Natal mempunyai arti yang berbeda tiap-tiap orang. Banyak yang menganggap hari itu sebagai satu kesempatan untuk saling membagi rasa, mengasihi, memberi. Namun perayaan Natal kali ini sedikit berbeda dari seorang pebisnis yang  kiprahnya sudah tidak asing lagi di dunia ‘pariwisata’ bernama I Ketut Putra Suartana, seorang pendiri sekolah pariwisata‘Mapindo’ dan juga bisnis akomodasi bernama Puri Saron. Karena tepat di hari penting ini ia bersuka cita dan membagi kisah hidupnya yang menempa pengetahuan dan imannya kepada Tuhan.

I Ketut Putra Suartana Lahir pada 5 april 1950 dengan latar keluarga yang  jauh dari kemilau kemewahan, ia dibesarkan di lingkungan keluarga besar petani yang bisa dikatakan sarat dengan keterbatasan. Saat itu keadaan ekonomi keluarganya memang  tampak sedang  carut marut, membuat Suartana sadar akan tanggungannya dan harus meredam jauh keinginannya untuk melanjutkan sekolah yang kala itu tersendat di kelas dua sekolah dasar. Belum lagi sebuah tragedi kelam yang kala dirasakan oleh masyarakat Bali yang tinggal di sekitar Buleleng, Karangasem, dan Klungkung. Tentu masih terekam jelas juga di memori Suartana tentang betapa dahsyatnya raungan dan dampak yang ditimbulkan ketika Gunung Agung meletus dan erupsi sekitar setahun penuh yang terjadi pada 18 Februari 1963 dan baru berakhir 27 Januari 1964. Letusan Gunung Agung pada 1963 saat itu tercatat telah menelan 1.549 korban jiwa, sekitar 1.700 rumah hancur dan 225.000 jiwa kehilangan mata pencaharian, hingga menyebabkan lebih dari 100 ribu jiwa lainnya harus dievakuasi dari loksi sekitar Gunung Agung.

Fenomena itu jugalah yang membuat keadaan ekonomi keluarganya menjadi semakin memburuk. Tidak mau terus-terusan menjadi beban keluarga, Suartana pun berinisiatif untuk melakukan apapun yang ia bisa untuk membantu perekonomian keluarganya, di usianya yang masih sangat muda itu Suartana sudah harus cukup kuat dengan hantaman kerasnya kehidupan. Akhirnya, menjadi seorang  penggembala sapi dan itik di sawah menjadi pilihannya untuk melanjutkan hidup,walaupun jauh di lubuk hatinya masih menyimpan hasrat untuk kembali bersekolah dan bermain sebagaimana anak-anak seumurannya.

Sampai di suatu hari, sebuah harapan datang dari salah seorang kakaknya yang hendak mengajak Suartana ikut tinggal di sebuah panti asuhan, demi untuk melanjutkan bangku sekolah yang cukup lama telah ia tinggalkan. Suartana pun tersentak dengan ajakan kakaknya itu, dan langsung setuju seolah ia terbangun dari tidur panjang dengan mimpi buruk sepanjang tidurnya. Nampaknya memang  babak kehidupan  inilah yang Suartana tunggu-tunggu, meskipun itu artinya ia harus rela berpisah dari ayah, ibu dan keluarga besarnya untuk melangkah di babak hidup barunya sebagai penghuni baru di panti asuhan Kristen Giri Asih, dengan tekad bulat untuk melanjutkan sekolahnya.

Kehidupan di panti asuhan yang penuh dengan jadwal dan program harian yang mutlak harus Suartana jalani, dimulai dari jam bangun tidur, makan, belajar hingga kembali tidur di malam hari. Suartna belajar dengan giat dan sangat tekun, ia menjalankan program hariannya dengan disipilin, menurutnya masa inilah yang menjadi poin penting dalam perjalanan hidupnya. Karena di masa ini juga Suartna mulai belajar tentang agama dan pengenalan kitab suci. Sehingga berkat ketekunanannya itu juga Suartana akhirnya dapat menyelesaikan sekolah dasarnya dengan nilai memuaskan.

Suartana kemudian melanjutkan langkahnya untuk melanjutkan pendidikan di sebuah SMP yang bernama Blimbingan Sari yang masih di bawah naungan panti asuhan tempatnya di tampung. Namun barulah Suartana hendak merayakan sukacitanya memulai kelas dan pelajaran baru, lagi-lagi ia harus menguatkan hatinya, karena di hari itu ia harus merelakan kepergian ayahnya tercinta meninggalkan dunia.Cukup lama dalam suasana batin dan keadaan yang mengharu biru, menjadikan Suartana mendapat keyakinan penuh bagi dirinya untuk memeluk agama nasrani. Di hari ini Suartana tersadar bahwa ia telah menemukan cahaya baru yang akan menerangi lika-liku perjalanan hidupnya.  

Hingga pada tahun 1971 Suartana melanjutkan pendidikannya di SMA Widya Pura yang terletak di daerah untal-untal. Masih dengan atmosfer yang sama, namun di fase ini Suartana semakin menonjol dengan nilai-nilai akademisnya yang sangat baik. Tanpa kesuitan Suartana akhirnya berhasil meneyelesaikan pendidikannya dengan prestasi yang membanggakan, hingga berkat prestasinya itu ia mendapatkan dukungan beasiswa penuh di  ‘Akademi Pariwisata Bali’ untuk melanjutkan program S1 pendidikannya pada ilmu akomodasi pariwisata.

Setelah menamatkan kuliah, Suartana kini semakin percaya diri untuk berdikari. Dengan ilmu yang ia telah miliki sekarang, Suartana memutuskan untuk bekerja di salah satu hotel di kawasan sanur sebagai ‘bell boy’,dan berkat kinerjanya yang maksimal karirnya pun cepat meningkat sehingga ia di percaya menjadi ‘Reservation Manager’ yang  juga sering mendapat sampingan menjadi pramuwisata para tamu asing saat sedang menginap di hotel tempatnya bekerja. Pekerjaan ini betah di lakoninya hingga 12 tahun.

Puas akan berbagai pengalaman pahit manis yang ia dapatkan selama bekerja di hotel, Suartana pun mendapat langkah baru bekerja sebagai dosen pendidik di Balai pendidikan dan Latihan Pariwisata Bal-Nusa Dua. Dan lagi-lagi, bukan I Ketut Suartana namanya jika tidak melakoni perannya dengan baik. Setelah delapan tahun mengabdi dan menorehkan prestasinya yang gemilang, Departemen  Pariwisata mengirimnya ke belanda untuk studi lanjutan  pada kegiatan ‘Summer Course’. Dari sana karir Suartana semakin menanjak, hingga dipekerjaan ini  ia mulai mendapatkan suatu perasaan kuat untuk terus dapat menjalankan kegiatan belajar mengajarnya. Boleh dibilang Suartana telah mendapatkan ‘Passion’-nya disini.

Sampai akhirnya ‘Passion’ itu juga yang mengarahkannya untuk membuat suatu sekolah miliknya sendiri yang tentu saja masih bergerak pada jasa pelatihan pariwisata yang ia sendri beri nama ‘Mapindo’ pada tahun 1992. Langkah ini menjadi titik balik kehidupan Suartana, karena terang saja selama ini ia hanya menjadi pekerja dan sekarang ia mulai mengelola dan mempekerjakan oranglain yang artinya ia mempunyai tanggung jawab besar untuk memenuhi hajat hidup banyak orang.

Sukses dengan ‘Mapindo’ tak lantas membuatnya puas. Suartana pun tanpa ragu melebarkan bisnisnya di bidang akomodasi dengan melahirkan sebuah perusahaan Travel Agent dan Hotel di Pulau Lombok. Hal itu semua dilakukan Suartana untuk fokus menunjang sarana sekolah ’Mapindo’ yang ia buat, untuk total menyokong dunia pendidikan pariwisata. Harapannya tak lain untuk melahirkan para generasi muda yang memiliki keterampilan dan kompetensi khususnya di bidang pariwisata.

Ilmu pengetahuan adalah suatu studi yang berusaha untuk mengamati, menemukan, dan memahami sifat dan prinsip-prinsip yang mengatur alamsemesta kita, dunia kita, dan diri kita sendiri. Hasil yang diperoleh daripadanya adalah suatu pengetahuan sistematis berdasarkan kategorisasi tertentu yang bertujuan untuk meramalkan dan menyesuaikan keadaan sesuai dengan hukum alam yang ditemukan. Ilmu pengetahuan telah membentuk kehidupan Suartana secara dramatis yang menjawab pertanyaan dan harapan.

Dengan semua kesuksesan yang telah diraihnya saat ini kita belajar bahwa sukses tak melulu soal harta dan materi. Sukses tak selalu soal pencapaian dalam pekerjaan, dimana uang dan harta menjadi tolak ukurnya. Namun lebih penting diatas itu semua adalah ‘Ilmu yang dibagi’.Sampai saat ini Suartana masih aktif menjalankan kegiatan belajar mengajar di sekolah yang ia buat, seolah Suartana ingin mengembalikan jasa semua orang yang telah mau berbagi padanya dari masa kecil hingga sekarang, dengan cara membagikan ilmu yang ia punya. Dan momen perayaan natal tahun ini baginya dapat dijadikan ajang untuk bertegur sapa dan berbagi kebahagiaan dengan banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.