Mon. May 25th, 2020

Majalah Wisata

News | Travel | Experience

Joged Bumbung Tarial Sakral Yang Dipentaskan Pada Hari Hari Tertentu Saja

3 min read

Beragam kesenian tradisional yang masih berkembang dengan baik sampai sekarang, apalagi ada kreasi dan inovasi baru dalam setiap pementasannya. Salah satu kesenian tradisional di Bali tersebut adalah tarijoged bumbung, menjadi hiburan paling merakyat dan hampir disukai oleh semua kalangan. Pementasan tarian ini melibatkan penonton yang berkolaborasi dengan penari, dikenal dengan istilah ngibing (seperti saweran), tarian ini memang meruapakan warisan budaya yang perlu dilestarikan dengan tidak mengurangi etika penari dan pengibing. Tidak seperti tarian lainnya seperti Barong dan Kecak yang mudah ditemukan di saat dalam perjalanan wisata tour. Tarian ini hanya dipentaskan sewaktu-waktu biasanya saat hajatan, ulang tahun organisasi/perusahaan ataupun kaul.

Para penonton terutama kaum lelaki memang menggemari kesenian tradisional ini, kadang-kadang penari yang nakal memperlihatkan gerakan erotis, sehingga menimbulkan kesan kurang bagus bagi citra kesenian tersebut, karena memang penarinya bebas melakukan gerakan tari baik liukan tubuh dan tangan, tidak seperti tarian lain yang sudah agem-agemnya dan melakukan  gerakan yang sama setiap pementasannya, sesuai tabuh / gamelan pengiringnya, namun tidak pada joged bumbung, mereka tetap mengikuti irama musik/ gamelan agar sesuai, tetapi mereka bebas bergerak sesuai keinginan, terpenting bisa menampilkan estetika dan etika.

Sepertinya dengan bergulirnya peradaban, faktor etika memang perlu mendapat perhatian, karena sering melenceng dengan kaidah aslinya.Kesenian tradisioanl ini harus tetap lestari, tapi tidak dengan menampilkan tarian erotis yang banyak ditolak oleh banyak kalangan, apalagi kaum ibu-ibu kebanyakan tidak suka melihat suaminya menari dengan penari Joged Bumbung yang sensual, dalam setiap pementasannya tak dipungkiri banyak didominasi kaum lelaki, karena cukup manusiawi, bahkan kalau dipentaskan di hotel atau restaurant saat mereka mengadakan ulang tahun, tarian ini mendapat sambutan cukup baik oleh wisatawan yang sedang wisata di Bali terutama tamu-tamu hotel tersebut. Namun demikian tarian ini jarang dipentaskan, tidak seperti tari Barong, Kecak ataupun Legong, yang bisa dinikmati setiap hari. 

Beragam kesenian tradisional yang masih berkembang dengan baik sampai sekarang, apalagi ada kreasi dan inovasi baru dalam setiap pementasannya. Salah satu kesenian tradisional di Bali tersebut adalah tarijoged bumbung, menjadi hiburan paling merakyat dan hampir disukai oleh semua kalangan. Pementasan tarian ini melibatkan penonton yang berkolaborasi dengan penari, dikenal dengan istilah ngibing (seperti saweran), tarian ini memang meruapakan warisan budaya yang perlu dilestarikan dengan tidak mengurangi etika penari dan pengibing. Tidak seperti tarian lainnya seperti Barong dan Kecak yang mudah ditemukan di saat dalam perjalanan wisata tour. Tarian ini hanya dipentaskan sewaktu-waktu biasanya saat hajatan, ulang tahun organisasi/perusahaan ataupun kaul.

Para penonton terutama kaum lelaki memang menggemari kesenian tradisional ini, kadang-kadang penari yang nakal memperlihatkan gerakan erotis, sehingga menimbulkan kesan kurang bagus bagi citra kesenian tersebut, karena memang penarinya bebas melakukan gerakan tari baik liukan tubuh dan tangan, tidak seperti tarian lain yang sudah agem-agemnya dan melakukan  gerakan yang sama setiap pementasannya, sesuai tabuh / gamelan pengiringnya, namun tidak pada joged bumbung, mereka tetap mengikuti irama musik/ gamelan agar sesuai, tetapi mereka bebas bergerak sesuai keinginan, terpenting bisa menampilkan estetika dan etika.

Sepertinya dengan bergulirnya peradaban, faktor etika memang perlu mendapat perhatian, karena sering melenceng dengan kaidah aslinya.Kesenian tradisioanl ini harus tetap lestari, tapi tidak dengan menampilkan tarian erotis yang banyak ditolak oleh banyak kalangan, apalagi kaum ibu-ibu kebanyakan tidak suka melihat suaminya menari dengan penari Joged Bumbung yang sensual, dalam setiap pementasannya tak dipungkiri banyak didominasi kaum lelaki, karena cukup manusiawi, bahkan kalau dipentaskan di hotel atau restaurant saat mereka mengadakan ulang tahun, tarian ini mendapat sambutan cukup baik oleh wisatawan yang sedang wisata di Bali terutama tamu-tamu hotel tersebut. Namun demikian tarian ini jarang dipentaskan, tidak seperti tari Barong, Kecak ataupun Legong, yang bisa dinikmati setiap hari. 

 yang sensual, dalam setiap pementasannya tak dipungkiri banyak didominasi kaum lelaki, karena cukup manusiawi, bahkan kalau dipentaskan di hotel atau restaurant saat mereka mengadakan ulang tahun, tarian ini mendapat sambutan cukup baik oleh wisatawan yang sedang wisata di Bali terutama tamu-tamu hotel tersebut. Namun demikian tarian ini jarang dipentaskan, tidak seperti tari Barong, Kecak ataupun Legong, yang bisa dinikmati setiap hari. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.